KAYA DAN MISKIN


 

 

“kaya” dianggap umum Ketika finansial berlebih di mata masyarakat. Karena kita masih menganggap bahwa saat kita mempunyai uang yang berlebih berarti kita kaya. Ingin beli apapun punya uang, ingin bayar apapun punya uang, ingin melakukan apapun hati kita merasa tenang bila memegang uang, seolah uang adalah segalanya, seolah uang maha kuasa. Lupa bahwa kita memiliki tuhan yang bukan berupa uang. Lalu kita mencari cari argument dan mengatakan bahwa salah satu orang yang berhak mendapatkan bagian zakat adalah orang miskin kemudian mencari pembenaran bahwa kekayaan memang berwujud harta benda, mencari cari berbagai alasan untuk membenarkan pendapat itu dan menjauhkan diri dari ketuhanan.  Nabi pernah bersabda:

 

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

 

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. al-Bukhari-Muslim)

 

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت نَعَمْ  قَالَ وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت  نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه  قَالَ إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

 

Rasulullah berkata padaku (Abu Dzar):  “Wahai Abu Dzar, apakah kamu memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya?”

Saya (Abu Dzar) menjawab : “Betul.”

Beliau bertanya lagi : “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?”

Saya (Abu Dzar) menjawab : “Betul.”

Lantas Nabi pun bersabda : “Sesungguhnya yang disebut kaya adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).

(HR. Ibnu Hibban)

Imam an-Nawawi dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj mengatakan, “Kaya yang terpuji adalah kaya hati; hati yang selalu merasa cukup dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah. Karena barangsiapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Pada dasarnya ia bukanlah orang yang kaya hati.”

bisa ditarik kesimpulan bahwa hakikat kaya bukanlah dilihat dari banyak-sedikitnya harta melainkan dari karakter yang tidak merasa kekurangan; merasa cukup dan bersyukur atas pemberian Allah. Karena kaya adalah soal karakter, maka setiap orang bisa menjadi kaya tanpa menunggu memiliki banyak harta. Hal ini sebagaimana diteladankan oleh para shalihin zaman dahulu yang memiliki paradigma dan sikap selalu bersyukur dengan pemberian Allah dan tidak bergantung pada dunia. Namun bukan berarti menjadi orang kaya harta adalah sebuah larangan. Dalam sebuah riwayat disebukan:

 

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

 

“Tidak mengapa kaya bagi orang yang bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik daripada kaya. Dan kebahagiaan itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Imam Ibnu Majah dan Imam Ahmad)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar anda untuk hal apapun yang masih berhubungan dengan post pada halaman ini. Dukungan tag HTML: Bold Text, Italic Text, and Link Text (Hanya jika diperlukan).