PONDOK PESANTREN SUNAN PANDANARAN


 

bahrululumsragen.com

PENDIRI : K.H. Mufid Mas’ud

PENGASUH :

K.H. Mufid Mas’ud

KH Ibnu Jauzi

Dr. KH. Mu’tashim Billah, S. Q, M. Pd. I

ALAMAT : Jl. Kaliurang Km 12.5, Candi, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, 55581

https://sunanpandanaran.com/

 

SEJARAH

Pondok Pesantren Sunan Pandanaran (PPSPA) didirikan oleh K.H. Mufid Mas’ud bersama istri beliau  Hj. Jauharoh ( putri KH. Munawwir pendiri Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta ). Pondok Sunan Pandanaran berdiri pada tanggal 17 Dzulhijjah 1395 H / 20 Desember 1975 M.

Pesantren ini selain ditujukan sebagai media dakwah dan tahfidh al-Qur’an, mengingat KH. Mufid adalah seorang hafidh al-Qur’an.

Oleh karena itu, Pondok Sunan Pandanaran  membagi tingkatan khataman menjadi tiga tingkatan.

Pertama, khataman juz ‘amma (hapal Juz 30).

Kedua, khataman bi al-nadhar (khatam Juz 30, Surat al-Kahfi, Surat Yaasin dan Surat-surat pendek)

Ketiga, khataman bi al-ghaib (hafal dari Juz 1 sampai juz 30).

 

Hubungan Pesantren Pandanaran dan Pesantren Al-Munawwir

Jika melihat kronologi berdirinya Pondok Pesantren Sunan Pandanaran sebenarnya ada tali sejarah yang menghubungkannya dengan pondok al-Munawwir, Krapyak.

 

KH.Mufid Mas’ud, pendiri dan pengasuh pesantren pandanaran merupakan pengasuh Pondok Puteri al-Munawwir, Krapyak. Namun,Pada bulan Oktober 1975, kyai kelahiran Tembayat, Klaten, Jawa Tengah ini hijrah sekeluarga dari Krapyak ke desa Candi, Sleman, Yogyakarta dan menempati tanah seluas 2000 m2 dari wakaf Haji Masduqi Abdullah di jalam yogya – kaliurang serta mendirikan pondok pesantren.

Asal Nama ‘Pandanaran’

Pengambilan nama Sunan Pandanaran sebagai nama pondok pesantren milik kiai mufid karena Sunan Pandanaran ( Sunan Tembayat ) sendiri merupakan leluhur Mbah Mufid di Tembayat, Klaten. untuk ber-tafa’ul, berusaha untuk meniru, dan mengikuti kegigihan, mewarisi semangat dan melanjutkan perjuangan Sunan bayat ( pandanaran ) dalam menyebarkan agama.

 

GURU – GURU KIAI MUFID MAS’UD

  • K.H. ‘Abdul Hamid Pasuruan
  • Habib Muhammad Ba’abud Lawang Malang
  • K.H. Ali Ma’shum Krapyak Jogjakarta
  • K.H. Muntaha Wonosobo
  • Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa al-Fadani (Makkah)
  • Sayyid Muhammad bin Sayyid Alwy al-Hasani al-Maliky al-Makky (Makkah)

 

K.H. Mufid Mas’ud merupakan keturunan ke-14 dari Sunan Pandanaran. Mbah Mufid sendiri lahir di Solo Jawa Tengah pada tahun 1928 hari Ahad Legi tanggal 25 Ramadhan. Beliau adalah putra kedua dari tujuh bersaudara. Ayahnya Kiai Ali Mas’ud merupakan keturunan dari sunan pandanaran ke -13

KH. Mufid pernah mengaji di Madrasah Ibtidaiyah Manbaul ‘Ulum, cabang Solo di bawah asuhan KH. Sofwan. Selama lima tahun (1937 – 1942). Kemudian pada tahun 1942 pula, beliau nyantri di Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Tiga tahun kemudian, beliau melanjutkan hafalan al-Qur’an kepada KH. Muntaha di Wonosobo. Namun di tahun 1950, KH. Mufid kembali ke Krapyak dan menikah dengan Hj. Jauharoh. Meski demikian, beliau tetap mengaji al-Qur’an kepada KH. Abdul Qadir dan KH. Abdullah Affandi. Sedangkan untuk memperdalam ilmu-ilmu keislamannya, beliau mengaji kitab kepada KH. Ali Maksum

UNIT PENDIDIKAN :

PENDIDIKAN FORMAL

  1. Raudhatul Athfal (RA)  Sunan Pandanaran
  2. Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sunan Pandanaran
  3. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Sunan Pandanaran
  4. Madrasah ‘Aliyah (MA) Sunan Pandanaran
  5. Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA).

PENDIDIKAN NON FORMAL

  • Pesantren Mahasiswa
  • Pesantren tahfidz.

    1. Qism al-Tahfidh (khusus menghafal al-Qur’an)
    2. Qism al-Takhashshush (khusus mengaji kitab).

 

Adapun bahan ajar adalah kitab-kitab mu’tabar seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din, Shahih Bukhori-Muslim, Tafsir Jalalain dan lain-lain.

METODE MENGHAFAL :

Rata-rata dua sampai tiga tahun atau lebih unruk dapat menghafal 30 jus alquran, tergantung pada tingkat kecerdasan dan kerajinan santri.

Metode hafalan menerapkan dua pola pendekatan, yakni :

  • pendekatan personal (tawajjuh-an antara santri dengan pengasuh saat menyetorkan hafalan) pendekatan sistem yang meliputi tiga aspek

  1. sistem badal (bimbingan kepada santri dalam membuat hafalan (loh-lohan))
  2. sistem presensi
  3. sistem evaluasi berkala (imtihan)

INSFRATUKTUR :

  • Pondok Pesantren Sunan Pandanaran memiliki enam komplek.

  1. Komplek I yang digunakan untuk hufadz (Putra)
  2. Komplek II untuk hafidzoh (Putri)
  3. Komplek III putra dan III putri (terpisah) untuk siswa MTs dan MA SPA
  4. Komplek IV untuk mahasiswa
  5. Komplek V untuk mahasiswi
  6. Komplek VI untuk lanjut usia yang ingin belajar mengaji.

  • Sarana fisik  meliputi :

  1. Sebuah masjid,
  2. Gedung-gedung sekolah/madrasah dari Taman Kanak-kanak, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah
  3. Madrasah diniyah
  4. Perguruan Tinggi
  5. Asrama santri,
  6. Kamar mandi/wc
  7. Dapur umum
  8. Gedung serba guna
  9. Ruang tamu
  10. Kolam wudlu
  11. Perpustakaan dll


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar anda untuk hal apapun yang masih berhubungan dengan post pada halaman ini. Dukungan tag HTML: Bold Text, Italic Text, and Link Text (Hanya jika diperlukan).